Jalanan buruk menuju Pantai Sawarna, Banten.

10-Agustus-2013

Pagi itu terasa berat sekali untuk pergi, namun Bapak memaksa kami untuk pergi berwisata ke Pantai Sawarna, Bayah, Banten. Pantai Sawarna adalah pantai yang terletak di selatan provinsi Banten, perbatasan antara Provinsi Banten dan Jawa Barat, tepatnya antara Daerah Bayah (Banten) dan kota Sukabumi. Pantai yang masih alami membuat Sawarna menjadi tujuan wisata paling diminati akhir-akhir ini. Pada awalnya memang Bapak mengajak kami untuk pergi ke Bogor, untuk mengunjungi kerabat disana. Tapi, karena ada pemberitaan sedang terjadi kemacetan parah, maka kami mengganti tujuan menjadi Pantai Sawarna. Aku, Adik-adik dan Ibu (kecuali Bapak) merasakan perasaan yang sama, yaitu malas untuk pergi. Dengan alasan, H+2 lebaran pasti semua wisata penuh pengunjung. Tapi Bapak tetap memaksa, memang seperti itu wataknya, cenderung memaksa dan tak pernah tau apa yang kami inginkan.  

Pagi, Jam sembilan lebih 30 menit kami pun berangkat dari Rangkasbitung. Aku merasa kurang fit, karena kurang tidur dan lelah setelah seharian mengunjungi kerabat ketika hari lebaran dan ditambah stamina tubuh belum terlalu segar karena berpuasa sebulan penuh. Sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang seperti biasa. Perjalanan ke Sawarna sangat berat, mobil kami yang kecil tidak cukup tangguh untuk melewati jalanan berbatu dan berlubang. Alhasil, perjalanan yang harusnya ditempuh selama 3 jam, menjadi 5 jam. Setibanya di Sawarna kami mendapati jalanan padat oleh mobil dan sepeda motor, akses menuju Tanjung Layar seakan-akan seperti jalanan di Jakarta ketika jam pulang kerja. Kami memutuskan untuk memutar balik kendaraan ke arah Pulau Manuk, terlebih waktu sudah menunjukan jam lima sore, walau tak sempat ke Tanjung Layar setidaknya kami bisa menikmati suasana matahari terbenam di Pulau Manuk.

Setelah puas berfoto-foto, merokok dan ngopi di pinggir pantai. Aku pergi ke toilet untuk mandi dan buang air besar. Setelah itu berwudhu untuk menunaikan ibadah shalat maghrib. Jam delapan malam, kami pun pulang ke Rangkasibitung. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 km, aku baru ingat bahwa jam tangan Timberland kesayanganku tertinggal di toilet. Kami pun kembali ke tempat itu dan mendapati jam tanganku sudah tiada. Rasa kecewa yang lumayan besar didalam hati, karena tahu jam tangan hasil keringet bekerja sendiri hilang akibat keteledoran diri sendiri. Hal itu membuat aku melamun sepanjang perjalanan.

Jalanan curam, sempit dan terdapat jurang dengan lautan luas didalamnya membuat kita harus berhati-hati melewatinya. Di tanjakan menuju perbukitan, aku injak pedalku dan melesat sekitar 40-65 km/jam, kemudian datang mobil dari arah berlawanan dengan lampu yang menyilaukan pandangan, dikarenakan jalanan sempit, akupun membelokan mobil kearah kiri karena takut terjadi gesekan, alih-alih menghindar dari kecelakaan, namun ban mobil selip dan aku kehilangan kendali, mobil terperosok sepanjang 2 meter, Ibu dan adik-adik perempuanku menjerit dan mengucap kata-kata suci. Mobil berhenti dengan sendirinya, aku terpaku diam sesaat, shock. Aku coba injak pedal namun mobil tak bergerak, aku turun dari mobil dan melihat mobil kami sudah dalam keadaan tergantung. Aku minta pertolongan dari kendaraan yang lewat tidak ada yang berhenti, sampai akhirnya ada sekelompok pengendara sepeda motor berhenti dan menolong kami mengangkat mobil ke jalan raya. Dengan segenap tenaga akhirnya mobil bisa keluar. Aku lihat keadaan mobilku, lecet sepanjang pintu kiri dan rusak di velg depan bagian kiri, bannya pecah akibat tertusuk batu runcing.

30 menit mengganti ban, kami pun melanjutkan perjalanan dengan kondisi mobil tidak stabil. Karena ban depan kiri berbeda ukuran dengan ketiga ban lainnya. Aku memang mengganti velg mobil dari 14 menjadi 15 beberapa waktu lalu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan perasaan sangat lelah, jalanan dari Bayah sampai Malingping yang rusak parah membuat perjalanan semakin menyiksa. Sepanjang perjalanan aku memaki-maki pemerintah Provinsi Lebak yang tidak becus memperbaiki infrastruktur jalan, khususnya jalan sekitar Bayah dan Malingping. Ada perasaan sangat jengkel kepada Bapak, karena beliau lah yang memaksa kami untuk tetap pergi. Aku menyalahkan Bapak ketika itu, aku tidak sadar bahwa kejadian ini adalah kehendak Allah SWT. Tidak ada yang perlu disalahkan, memang harusnya seperti ini. Ini adalah pengalaman perjalanan keluarga yang sangat buruk sepanjang hidupku, aku akan belajar banyak dari kejadian ini. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, agar lebih hati-hati dalam berkendara dan satu lagi, aku tidak akan pernah mengunjungi tempat itu lagi selama jalanan masih buruk.

 

–          The End     –

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s