Perjalanan Ke Ho Chi Minh City Vietnam

Sabtu siang tanggal 2-Agustus-2014, saya merenung di dalam kamar. Liburan yang begitu lama membuat pikiran dan hati keruh. Saya butuh perjalanan, kemanapun itu. Akhirnya terbesit dalam pikiran untuk pergi berpetualang keluar Indonesia. Negara yang pertama terpikir adalah Vietnam. Kenapa Vietnam? Karena saya punya sahabat yang menetap disana. Tapi saya pikir jika hanya mengunjungi Vietnam tidaklah cukup, saya kemudian memutuskan untuk mengunjungi Thailand setelahnya. Saya buka laptop, berselancar di Internet, kemudian mencari informasi tentang negara tersebut dan juga harga tiket pesawat untuk menuju kesana. Setelah hitung sana hitung sini akhirnya saya memutuskan bahwa hari Kamis saya pergi!

Hari Rabu tanggal 6-Agustus-2014 saya berangkat dari Rangkasbitung menuju Serang, untuk menginap semalam disana. Karena hanya di Serang saya bisa mendapatkan Bus Damri menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Bus Damri berangkat dari Terminal Pakupatan setiap satu jam sekali, mulai beroperasi dari jam 04:00-17:00. Ongkosnya adalah Rp.45.000 sekali perjalanan. Cukup murah. Kita akan mendapatkan Bus yang nyaman dan juga ada Wifi gratis di dalamnya. Setelah menginap satu malam disana, besoknya hari kamis tanggal 7-Agustus-2014 saya pun berangkat.
Penerbangan saya dijadwalkan terbang pada pukul 11:45. Dan transit di Singapura selama 6 jam. Lumayan, selama transit saya bisa melihat-lihat kota Singapura yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta itu, namun lebih bersih tentunya. Pada saat berangkat dari Indonesia, saya hanya memegang satu tiket sekali pergi dari Indonesia, yaitu Jakarta-Ho Chi Minh City. Saya khawatir karena yang saya baca di internet, untuk bisa masuk negara ASEAN kita harus punya tiket pulang. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat di Bandara Changi Singapura. Namun, bahasa Inggris orang Singapura itu sangatlah sulit dimengerti, khususnya mereka yang berparas Tiongkok. Sulit sekali dicerna. Lebih baik bahasa Inggris orang Singapura berparas Melayu dan India, mereka lebih mudah dimengerti. Oleh karena itu, saya kesulitan untuk mencari sales counter di Bandara Changi Singapura. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli tiket pulang. Saya begitu khawatir sekali pada saat itu, mengingat negara yang akan saya datangi adalah negara sosialis. Entah apa hubungannya, dibenak saya negara sosialis itu sangatlah keras. Tapi, saya serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biarkanlah Dia yang memutuskan kejadian selanjutnya.
Perjalanan saya berlanjut. Pukul 19:10 saya berangkat dari Singapura menuju Ho Chi Minh City Vietnam. Perasaan saya sangat tidak karuan. Saya membayangkan jika saya tidak bisa menunjukan tiket pulang, pihak imigrasi Vietnam akan menyuruh saya kembali pulang ke Indonesia. Namun benar apa kata orang bijak Arab “Apa yang kamu takutkan, sesungguhnya tidak akan terjadi”. Benar saja, ketika saya mendarat di Ho chi Minh City, petugas imigrasi tidak mempermasalahkan tiket pulang saya. Memang betul, petugas itu bertanya akan tiket pulang saya. Dan saya hanya jawab, saya hanya tinggal disini selama dua hari, kemudian akan membeli tiket pesawat menuju Thailand esok hari. Saya pun lolos.
Ho Chi Minh City adalah salah satu kota besar yang ada di Vietnam. Kota ini adalah kota terbesar di Vietnam dan terletak dekat delta Sungai Mekong. Dahulu namanya Prey Nokor, dan saat itu kota ini merupakan pelabuhan utama Kamboja, yang kemudian ditaklukkan oleh bangsa Vietnam pada abad ke-16 . Pertama saya menginjakan kaki di kota ini, hawa terasa lumayan panas.
Suhu rata-rata di Ho Chi Minh City adalah 28˚ C. Saya tiba di Bandara Tan Son Nhat pukul 20:45, seketika saya langsung menukarkan uang USD saya ke VND. Saya tukar sebesar $100 dollars, cukup besar memang memegang uang sebesar itu untuk hanya dua hari, dan faktanya uang tersebut tidak habis. Karena mata uang Vietnam memang sangat lemah bila dibandingkan dengan Dollar.
Teman saya sudah menunggu diluar bandara, saya pun pergi bergegas menggunakan sepeda motor menuju tempat makan di pusat kota ini. Makanan disana kebanyakan berkomposisi daging babi. Jadi agak sulit untuk saya untuk menghindarinya. Walaupun ada beberapa makanan seperti nasi, ayam dan sapi. Tapi bumbu-bumbu yang berbahan babi masih tetap akan ada di setiap makanan. Akh, sulit sekali. Tapi apa daya, karena kepepet, saya tetap makan ayam dan sapi tanpa memikirkan bumbu apa yang dicampurkan kedalamnya.
Kota ini jika boleh saya gambarkan, adalah perpaduan antara Bandung dan Jakarta. Keruwetan lalu lintas, pengendara sepeda motor yang seperti orang kesurupan cukup untuk bisa bersanding dengan kota Jakarta. Namun dibeberapa titik, banyak sekali pepohonan rimbun, mirip dengan kota Bandung. Perempuan disana nampak seperti Tiongkok. Putih bersih dan langsing. Tidak sama dengan di Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim, perempuan di Vietnam berpakaian lebih terbuka memerkan lekuk tubuh mereka.
Selama dua hari di Vietnam. Saya berkunjung ke beberapa tempat keramaian disana. Tempat yang biasanya dikunjungi oleh turis asing. Diantaranya adalah Gereja Notre-Domme, Independent Palace, War Museum dan Ben Thanh Market.

– Notre-Domme

IMG_3606

– Independent Palace

ARP_5101

– War Meseum

IMG_3596

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s