Perbedaan Mendasar Pria dan Wanita Dalam Pengambilan Keputusan

Perselisihan dalam hubungan memang pasti akan terjadi, apapun bentuknya. Manusia diciptakan memang berbeda. Kita berbeda dari mulai fisik, sifat, kebiasaan dan cara berpikir. Begitu hebatnya Yang Maha Kuasa menciptakan perbedaan itu. Perbedaan diantara manusia, sangat, sangat sempurna. Perbedaan itulah yang membuat kehidupan lebih berwarna dan bermakna.

Perbedaan yang paling mencolok adalah perbedaan antara pria dan wanita. Secara kasat mata, tentu jauh berbeda. Namun pernahkan anda berpikir, jauh daripada itu perempuan ataupun pria tetaplah hanya seorang manusia, punya perasaan dan akal yang sama. Kalaupun berbeda, ya mungkin hanya karena lingkungan dan didikan keluarga.

Wanita lebih mengandalkan emosi daripada logika. Sedikit hal yang bertentangan dengan nuraninya, mereka akan terluka dan bersedih hati. Dalam memutuskan suatu persoalan mereka betul-betul memperhatikan emosi mereka, hasilnya seringkali terlihat baik untuk jangka pendek, namun buruk untuk jangka panjang. Sebaliknya pria, lebih mengedepankan logika daripada emosinya, segala hal dipikirkan berdasarkan akal dan logika. Pengambilan keputusan diambil tanpa melibatkan perasaan, dan seringkali dampaknya membuat orang lain sakit dan menderita.

Alam semesta ini dikelola oleh sebagian besar kaum pria. Tuhan memberikan kepercayaan penuh kepada mereka untuk memimpin dunia ini. Lihat saja para pemimpin negara, organisasi ataupun masyarakat. Semua didominasi pria, memang ada beberapa perempuan namun hasil kepemimpinannya bisa dipastikan tidak akan sebaik pria. Karena memang begitu, sudah tertulis dalam kitab suci, bahwa pria adalah pemimpin dari perempuan. Tuhan memberikan arahan itu bukan tanpa alasan, karena Tuhan tahu segala hal harus diputuskan berdasarkan akal, bukan emosi semata.

Tapi sekali lagi, apapun dasarnya. Mau itu emosi ataupun logika. Pria atau wanita sama-sama manusia. Mereka punya perasaan yang sama. Bisa bersedih dan juga berbahagia. Mereka sama-sama punya hati. Mereka akan bersedih apabila terluka, dan tertawa apabila berbahagia. Apakah bisa emosi dan logika berjalan  dalam waktu bersamaan? Supaya tidak ada yang harus terluka dan tersakiti. Kalau memang emosi dan logika tak bisa bersama, lalu mengapa harus ada cinta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s