ADA APA DENGAN BURUNG BIRU?

Biru adalah warna yang penuh kejujuran, ketenangan, kesetiaan, bisa diandalkan, dan keharmonisan.  Bahkan nenek moyang kita menganggap biru adalah warna darah dari para raja. Namun ada yang berbeda di kejadian minggu lalu, kericuhan terjadi di tengah-tengah demonstrasi yang dilakukan oleh sopir salah satu perusahaan taksi swasta nasional berlambangkan burung berwarna biru tersebut. Mobil taksi yang tetap narik ketika demo berlangsung dihancurkan dan diinjak-injak yang mengakibatkan jalanan macet dimana-mana. Demonstrasi dilakukan agar pemerintah terdorong untuk mengambil tindakan tegas terkait legalitas terhadap perusahaan jasa transportasi umum berbasis aplikasi online. Namun pertanyaannya adalah, apakah sudah tepat  yang mereka lakukan? Kepada siapa seharusnya mereka mengeluh?

Saat ini bisnis transportasi di Indonesia sedang dalam masa hypercompetitive market. Menurut Philip Kotler, In hypercompetitive market, there is hardly any sustainable competitive advantage. Rapid technological change and globalization can destroy competitive advantage overnight. Keamanan dan kenyamanan taksi burung biru yang selama ini melekat dibenak konsumen, kini tergantikan posisinya oleh penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi online. Nilai penjualan turun, supir sulit mendapatkan target.

Siapa sebenarnya biang keladi dari persaingan yang semakin ketat ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah teknologi. Hanya perusahaan-perusahaan yang cepat menanggapi perubahaan yang bisa bertahan melewati segala persaingan yang ada. Jack Welch, mantan CEO dari General Electric sering berkata kepada anak buahnya, Change or Die!. Ya, berubah atau mati, itulah pesan yang harus setiap perusahaan renungkan. Competitive advantage yang dibangun selama bertahun-tahun, bisa hancur karena perubahaan cepat yang timbul akibat teknologi. Pelanggan sekarang ingin serba instan, kalau ada yang lebih murah dan cepat, mengapa harus pakai cara lama.

Menanggapi hal ini, daripada meminta belas kasih pemerintah atau demonstrasi tak karuan dan pada akhirnya reputasi perusahaan yang tercoreng. Lebih baik perusahaan taksi konvensional melakukan benchmarking dengan perusahaan berbasis online tersebut. Menurut Philip Kotler dalam bukunya FAQS On Marketing, Answer and Advice by The Guru of Marketing, 2014, ada dua cara dalam melakukan benchmarking, yang pertama adalah passive benchmarking, kemudian yang kedua adalah creative benchmarking.

Dalam passive benchmarking, perusahaan melakukan peniruan secara penuh, baik itu meniru proses bisnisnya, cara pengembangan produknya ataupun bagaimana mereka berhubungan dengan pekerja atau pelanggan. Dalam dunia akademisi meniru secara penuh dianggap sebagai kejahatan, namun di dunia bisnis tidak demikian. Selama dapat membantu perusahaan meningkatkan profit dan pendapatan, meniru model bisnis tidak diharamkan.

Ada satu cara lagi yang lebih elegan dan orisinil, yaitu creative benchmarking. Dalam creative benchmarking, perusahaan tidak hanya meniru, tapi juga melakukan modifikasi atau improvisasi. Menurut Philip Kotler, Creative Benchmarking is about bettering the best, not just copying the best. Dengan cara ini, perusahaan dapat menemukan keunggulan bersaing baru dari perusahaan pesaing. Proses ini perlu ketekunan dan waktu yang panjang. Di dunia bisnis, jika hanya menjadi follower saja, perusahaan tidak akan bertahan lama. Menjadi kreatif adalah sebuah keharusan jika ingin menjadi sustainable company.

Kesimpulannya, pemerintah tidak dapat membantu banyak dalam proses persaingan ini. Regulasi terkait hal itu cepat atau lambat akan terpenuhi oleh perusahaan transportasi berbasis online tersebut. Nah, jadi sebelum izin legalitas sudah sepenuhnya keluar. Sebaiknya perusahaan taksi konvensional segera melakukan benchmarking dengan perusahaan tersebut. Agar bisa bersaing secara sehat. Yang perlu diingat adalah kecepatan, keamanan dan kenyamanan. Perusahaan harus memenuhi ketiga hal itu, tentunya harus berbasiskan teknologi. Jika semua sudah dipenuhi, niscaya kehadiran perusahaan transportasi berbasis online bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s