Kemiskinan Itu Sumber Ketidakteraturan

Dalam perjalanan menuju ke Bandung, saya melihat sampah berserakan di sekitar jalan tol yang sedang diperbaiki. Tidak habis pikir sebenarnya siapa yang tega membuang kantong plastik, tissue, botol bekas dan lain sebagainya ke ruang publik.

Saya pernah berkunjung ke pemukiman di suatu kampung kecil di daerah Banten, suasananya sama percis, lingkungan kotor, banyak sampah dan bau. Diketahui mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pedagang kecil dan pegawai kasar. Di lain kesempatan, saya berkeliling di komplek perumahan di daerah Batununggal-Bandung, suasana sebaliknya, jalanan bersih, tidak ada sampah dan rindang oleh pepohonan. Diketahui perumahan ini memang perumahan golongan ekonomi menengah keatas.

Dari pengalaman tersebut, saya mencoba menghubungkan apakah ada kaitannya antara tingkat ekonomi seseorang dengan keteraturan dalam menjalani hidup. Salah satu contoh keteraturan adalah mengelola diri sendiri dan lingkungan dengan rapih dan bersih. Menurut Menteri Kesehatan Rwanda,

“Poverty is usually associated with dirt and deprivation. It is often assumed that if one is poor, they are more unlikely to portray a clean, fresh appearance”.

Diasumsikan bahwa kemiskinan berhubungan dengan kotor dan ketidakteraturan. Contoh saja, jika ada orang yang kotor badannya, kuku tidak digunting, kulit terlihat tidak sehat, berbau tidak sedap pasti kita asosiasikan yang bersangkutan dengan golongan ekonomi lemah. Alasannya sederhana, kebutuhan dasar mereka belum tercukupi dengan baik seperti yang dijelaskan oleh Maslow, katanya jika seseorang kebutuhan fisiologisnya belum terpenuhi maka tidak bisa berlanjut ke kebutuhan diatasnya, seperti kebutuhan keamanan, sosial, self esteem dan kebutuhan mengaktualisasikan diri.

Dari asumsi itu, saya ainulyakin bahwa yang membuang sampah ke jalan tol itu pasti orang tidak mapan secara ekonomi. Entah itu petugas yang sedang bekerja di proyek jalan tol, penumpang miskin yang menggunakan jalan atau orang yang sebenarnya mampu tapi miskin secara karakter.

Salam..

Advertisements

Perbedaan PTN dan PTS: Lulusan PTN, Berpikir Makro. Lulusan PTS, Berpikir Mikro.

Di Indonesia, negara kita tercinta. Setiap tahun terjadi keramaian, kegalauan dan kegundahan dari setiap individu yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ada banyak pilihan perguruan tinggi yang bisa dimasuki. Namun secara singkat, mereka mengkategorikan itu menjadi dua, perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS). Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan perbedaan apa sebenarnya yang mencolok dari kedua jenis perguruan tinggi tersebut. Mulai dari suasana akademik, kegiatan non-kurikuler dan karakter lulusan.

Atmosfer Akademik

Saya sebenarnya tidak setuju kalau ada orang yang membuat suatu generalisasi terhadap mahasiswa PTN dan PTS. Diasumsikan oleh publik bahwa lulusan atau mahasiswa PTN lebih hebat dan pintar daripada lulusan atau mahasiswa PTS. Asumsi semacam ini adalah keliru. Entah siapa yang pertama kali menyebarkan pemikiran seperti ini. Adapun yang saya alami, pengajaran yang diterima oleh PTN maupun PTS itu sama saja. Buku-buku yang dipakai sama, kurikulum juga acuannya sama dan dosennya pun sebagian besar sama. Bahkan banyak dosen PTN yang mengajar di PTS. Banyak juga dosen dari lulusan luar negeri yang sama-sama mengajar di PTS dan PTN. Selain itu, pada dasarnya PTN atau PTS sama-sama memiliki tiga tanggung jawab yang sama yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Standar dan aturannya sama.

Kegiatan Non-Akademik

Di dunia kampus, hidup tidak melulu diisi dengan belajar saja. Civitas akademika didalamnya perlu melakukan kegiatan diluar pembelajaran. Banyak sekali kegiatan yang bisa dilaksanakan seperti berolahraga, berorganisasi dan mengembangkan bakat. Hal ini terjadi baik di PTN atau PTS. Masing-masing dari kampus baik PTN atau PTS pasti memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Program Studi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baik yang berbentuk hobi atau pengembangan bakat lainnya. Semuanya dikelola dengan baik dibawah pengawasan perguruan tinggi tersebut. Mereka bisa juga meraih prestasi melalui jalur ini.

Karakter Lulusan

Hal ini barangkali yang akan saya bahas lebih mendalam. Seorang lulusan perguruan tinggi banyak ragamnya. Sebelum saya bahas karakternya, baiknya kita sedikit bahas bagaimana perguruan tinggi mengelola institusinua.

Kita sudah tahu bahwa PTN banyak dibiayai oleh Negara. Negara memberikan anggaran rutin yang dibagikan kepada PTN untuk keperluan operasionalnya. Karena dibantu negara, hal ini membuat biaya kuliah di PTN lebih murah dibandingkan PTS. Pegawainya pun adalah pegawai negeri sipil, yang mana digaji oleh negara. Mulai dari tenaga admin, manajerial dan tenaga pengajar.

Sebaliknya, PTS dalam menunjang kegiatan operasionalnya dibiayai oleh yayasan yang mendirikannya. Yayasan tersebut memiliki dana terbatas untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Maka dari itu mereka mengakalinya dengan mengatur biaya perkuliahan untuk bisa membantu kegiatan operasionalnya.

Menurut saya pengelolaan institusi perguruan tinggi swasta menerapkan prinsip-prinsip bisnis didalamnya. Ada hitung-hitungan cost dan benefit dalam setiap proses pengambilan keputusan. Tidak heran, pengelolaan organisasi institusi PTS menurut saya lebih baik. Mereka menganggap mahasiswa itu adalah konsumen yang harus diperhatikan dan dilayani dengan sebaik-baiknya.

Secara singkat. PTN dibiayai negara. Sementara PTS dibiayai pihak swasta. Apakah ini berpengaruh terhadap karakteristik mahasiswa atau lulusannya?. Saya melihat adanya pengaruh dari proses pengelolaan perguruan tinggi dengan lulusan yang dihasilkan. Perbedaannya seperti ini, mahasiswa PTN merasa mereka dibantu oleh negara dalam mendapatkan pengetahuan selama kuliah. Banyak komponen biaya yang mereka minimalisir karena sudah disubsidi oleh negara. Secara langsung ataupun tidak, baik sadar ataupun tidak, mahasiswa PTN memiliki hutang budi kepada negara. Mereka merasa harus membalas bantuan negara dengan karya atau mengabdi untuk kemaslahatan Indonesia. Tidak heran, banyak lulusan PTN menjadi pegawai BUMN, Pegawai Negeri Sipil, Negarawan dan Tokoh Nasional.

Sementara di PTS. Mahasiswa sudah merasakan bagaimana biaya yang dikeluarkan dan dikelola oleh institusi pendidikan tinggi. Mereka berpikir bahwa harus ada output yang baik setelah kuliah karena mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dari sini mereka berpikir lebih mikro, bagaimana caranya uang tersebut balik modal dengan cepat?. Setelah lulus, lulusan PTS banyak memilih bekerja di perusahaan swasta asing atau bekerja di perusahaan nasional level dunia. Dengan harapan mendapatkan penghasilan yang tinggi, agar bisa mengembalikan apa yang selama ini dikeluarkan, baik finansial maupun non-finansial.

Seperti itulah pemikiran saya terkait karakter mahasiswa di PTS dan PTN. Pemikiran ini hasil dari pengalaman pribadi dan pengamatan sosial yang saya lakukan selama ini. Dapat saya simpulkan bahwa baik lulusan/mahasiswa PTN dan PTS semuanya sama. Tidak ada yang lebih pintar atau kurang pintar. Tidak ada yang berbeda dari metode belajar dan kualitas pengajaran. Yang berbeda hanya status pengelolaan dan pembiayaan. Yang mana itu mempengaruhi cara bersikap dan berpikir dari masing-masing lulusan. Semua manusia cerdas, tergantung manusia itu sendiri sebijak apa menggunakan kecerdasannya.

Salam.

Mythomania, Suatu Penyakit Jiwa: Berbohong Karena Ingin Diakui.

Sebelum pergi ke Bandung untuk sekolah, saya lumayan lama hidup di kota kecil di daerah Banten. Lingkungan dimana saya tinggal dipenuhi oleh orang yang kurang beruntung baik dari segi pekerjaan, keluarga maupun pendidikan.

Satu hal yang menonjol dari orang-orang di lingkungan saya tersebut adalah seringnya menceritakan cerita bohong, penuh khayalan tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Setiap kali berbincang dengan mereka, saya sering kali terganggu karena kebohongannya. Jika bercerita selalu dibesar-besarkan. Tidak jarang pula selalu disertai dengan pernyataan bombastis dengan membanggakan dirinya paling hebat diantara yang lain. Ada yang mengaku secara serius sebagai pedagang paling kaya dan disegani di lingkungannya, padahal kalau dilihat dari usahanya, yang bersangkutan hanya menyewa ruko kecil dan menjual barang-barang murah. Ada juga yang berkelakar memiliki gaji fantastis, padahal pekerjaannya hanyalah satpam di sebuah gudang perusahaan produk konsumsi.

Setelah mendengar banyak cerita bohong dari mereka, saya pun penasaran apakah yang sebenarnya terjadi pada kepribadian mereka. Saya yakin betul pasti ada yang tidak beres dengan kejiwaannya. Akhirnya saya buka google untuk mencari tahu apakah ada penyakit psikologis terkait dengan kebohongan tersebut.

Mythomania liar adalah perilaku berbohong bukan karena ingin menipu orang lain. Tapi karena ingin mendapatkan pengakuan.

Hal ini terjadi karena pelaku sering kali mendapatkan kegagalan dalam hidupnya, seperti kegagalan dalam studi, keluarga, karir dan pekerjaan. Karena begitu, pelaku mencoba untuk membangun citra diri yang sempurna agar orang lain mengakui dirinya seseorang yang hebat. Hehe lucu banget ya, tapi kasihan.

Adapun ciri-ciri pembohong Mythomania adalah sebagai berikut:

⁃ Suka membesar-besarkan sesuatu

⁃ Selalu menimpali bahwa dirinya lebih baik dari apapun yang dia ceritakan

⁃ Menciptakan realitas sendiri untuk dirinya

⁃ Karena mereka tidak menghargai kejujuran, merekapun tidak menghargai kepercayaan

⁃ Bisa jadi seorang Hyphochondriac juga, yaitu orang yang selalu merasa sakit (dibuat-buat) agar diperhatikan

⁃ Sering kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya

⁃ Bisa berbohong dengan hal yang sepele

⁃ Selalu membesar-besarkan kalimat

⁃ Bisa merubah rubah cerita setiap saat.

⁃ Sangat defensif ketika dipertanyakan pernyataanya

⁃ Sangat percaya apa yang dikatakannya benar padahal jelas tidak benar buat orang lain

⁃ Berbohong ketika sebenarnya sangat mudah untuk menceritakan kebenaran

⁃ Berbohong untuk mendapat simpati dan terlihat baik

⁃ Selalu mendapat nilai baik pada pandangan pertama tapi selanjutnya tidak dapat dipercaya

⁃ Memiliki gangguan kepribadian

⁃ Jago memanipulasi

⁃ Ketahuan bohong berkali kali

⁃ Tidak pernah mengakui kebohongan

⁃ Menganggap dirinya legenda

Akhirnya setelah mengetahui hal tersebut saya pun tersadar bahwa mereka itu sedang “sakit”, tepatnya sakit jiwa. Seperti halnya sakit jasmani, jika ingin sembuh haruslah diobati. Kalaupun tidak ada keinginan untuk sembuh dari penderita, kita hanya bisa mendoakan. Sejak mengetahui itu, hal yang akan saya lakukan adalah menghindar. Saya khawatir penyakit tersebut bisa menular. Naudzubillahimindzalik.

Sekian..

Kalau Sudah Besar Mau Jadi Apa?

Masih ingat betul dalam ingatan saya. Sekitar tahun 2005 saat saya duduk di kelas tiga SMP. Pada sore hari saya berkumpul bersama kawan di salah satu tempat rental play station. Di tengah perbincangan, kawan saya bertanya kepada saya “Ngga, geus gede hayang jadi naon? (Ngga, sudah besar mau jadi apa?”). Mendengar pertanyaan itu, saya langsung menjawab “Jadi naon bae, asal ulah Pengusaha atawa Guru” (Jadi apapun, asalkan jangan jadi Pengusaha atau Guru”).

Saya menolak bercita-cita menjadi pengusaha atau guru karena saya pikir pekerjaan tersebut terlalu beresiko. Pengusaha beresiko bangkrut lalu jatuh miskin. Guru beresiko capek hati dalam menghadapi murid yang nakal, belum lagi jadi bahan gunjingan murid yang tidak menyukainya. Dua pekerjaan itu tidak saya sukai sama sekali.

Bertahun-tahun ucapan itu menguap sampai ke langit. Kata orang, jika kita membenci sesuatu, ada satu energi semesta yang akan membawanya menjadi kenyataan untuk terjadi pada diri kita. 13 tahun berlalu, setelah melewati berbagai pekerjaan. Dari mulai bankir, staf pemasaran dan sampai akhirnya, saya sekarang adalah seorang dosen di perguruan tinggi. Sungguh diluar dugaan. Sebagai sampingan, saya pun memiliki satu merk tas. Saya desain, produksi dan menjualnya di media online. Singkat kata, selain dosen sayapun seorang pengusaha. Pekerjaan yang dulu saya hindari, akhirnya menjadi sumber penghasilan saya sekarang.

Hehe lucu memang hidup ini. Semesta ini super jahil menurut saya. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu, kadang hal yang kita inginkan menjauh. Tapi sering juga saat kita menghindari atau membenci sesuatu, hal tersebut malah mendekat kepada kita.

Pelajaran yang diambil adalah hati-hati berkata-kata. Semesta ini super jahil. Bisa jadi yang tidak anda sukai, malah mendekat dan terjadi pada hidup anda.

Salam..

Tampang Biasa Saja, Apa Yang Menyebabkan Andika Kangen Band Punya Banyak Wanita Cantik

Siapa yang tak kenal pria tamvan asal Lampung ini. Andika Kangen Band, namanya tenar di Indonesia karena lagu-lagu yang diciptakan dan dipopulerkan oleh band bernama Kangen Band. Menjadi seorang pemain band dan sekaligus vokalis menjadi keunggulan sendiri untuk disukai banyak wanita. Dan perlu kita sepakati bahwa, faktanya, Kangen Band sangat digandrungi sebagian besar masyarakat Indonesia. Saya melihat band ini sangat segmented, menyasar segment kelas menengah ke bawah. Di Indonesia, kelas menengah bawah mendominasi populasi negeri ini. Karyanya, suka tidak suka telah diterima masyarakat dengan penuh antusias dan membuat Andika semakin populer.

Saya ingin memberikan pandangan kepada anda tentang kenapa Andika bisa digandrungi banyak wanita cantik. Penilaian ini didasari buku psikologi modern terkenal yang dikembangkan oleh Dale Carniege yang berjudul How to Win Friends and Influence People.

Dalam buku tersebut dikatakan, untuk membuat orang lain menyukai anda, anda hanya cukup menebar senyum yang tulus. Berbicara sambil tersenyum, menanggapi orang lain dengan senyum. Pokoknya anda harus murah senyum.

Hal lain yang disebutkan dalam buku tersebut adalah mendengarkan dengan tulus. Anda harus mendengarkan dan memberi respon terhadap apapun yang dibicarakan lawan bicara. Jangan sekalipun lengah, dengan mendengarkan dan merespon, lawan bicara anda akan merasa dihargai dan dibutuhkan. Dengan demikian anda akan disukai dan dianggap orang yang seru diajak ngobrol.

Yang terakhir menatap mata. Mata adalah organ paling ajaib yang dimiliki manusia. Sepasang mata manusia dapat memberi jutaan arti bagi yang memandangnya. Tatapan mata yang fokus menunjukan bahwa anda seseorang yang antusias dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Bagi wanita, lelaki percaya diri itu adalah the new handsome untuk mereka. Percuma wajah anda ganteng, kalau ketika ngobrol anda selalu tunduk atau mata anda tidak fokus memandang mata lawan bicara. Jika seperti demikian, anda akan dinilai lelaki yang tidak percaya diri. Wanita mana yang mau berhubungan dengan lelaki minder?

Asumsi saya, Andika punya ketiga hal ini. Dan dia melakukannya dengan penuh ketulusan. Jika anda lihat videonya bersama pacar barunya yang berprofesi sebagai Pramugari. Terlihat sekali Andika menanggapi semua ceritanya dengan tawa dan respon yang tulus. Dan satu lagi, kepercayaan diri Andika sangat tinggi. Andika memiliki self esteem yang kokoh. Hal tersebut adalah modal paling berharga bagi seorang pria jika ingin mendapatkan wanita cantik dari kalangan manapun.

Salam…

Dilan 1990, Keegoisan Laki-laki dan Kelemahan Hati Perempuan

Kutipan seperti “Jangan Rindu, Berat, Biar Aku Saja”. Atau “Aku Tidak Mau Membuatmu Cemas, Biar Aku Saja Yang Mencemaskanmu”. Kutipan-kutipan dalam film Dilan 1990 telah membuat banyak orang, khususnya generasi milenial senyum-senyum sendiri.

Dalam kutipan diatas seolah-olah menunjukan bahwa laki-laki rela berkorban apa saja demi kebahagian pasangannya. Tapi apakah kutipan tersebut mengartikan bahwa apa yang dilakukan Dilan memang benar-benar karena ingin Milea bahagia?. Hmm, belum tentu. Saya melihatnya sebagai wujud keegoisan laki-laki dalam bentuk yang berbeda. Disampaikan dengan sangat halus dibalut puisi yang menghanyutkan.

Laki-laki, Apapun Jenisnya, Super Egois

Egois dalam kamus bahasa Inggris berarti thinking only of oneself, without regard for the feelings or desires of others; self-centered. Tambahan informasi terkait egoisme, David Elkind, seorang Psikolog terkenal menerangkan egoisme sebagai berikut the tendency for teenagers to focus on themselves and what others think of them. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan egois berarti hanya fokus kepada diri sendiri, tanpa memikirkan apa yang diinginkan atau dipikirkan orang lain.

Biar Aku Saja, Kamu Jangan. Segalanya tentang keakuan. Kamu atau kalian tidak boleh terlibat. It is everything about me. Kira-kira begitu lah sifat semua laki-laki. Secara alami seorang laki-laki dididik dan dituntut untuk hanya bergantung pada dirinya sendiri. Mendapatkan bantuan dari orang lain adalah hal yang, mungkin, untuk sebagian besar laki-laki adalah sebuah kelemahan. Dan laki-laki tidak akan pernah rela dipandang lemah oleh orang lain.

Seringnya, sifat ini dikenali oleh banyak perempuan namun sulit untuk dimengerti. Mengenal saja tidak cukup, perempuan harus mengerti akan sifat ini. Sekali perempuan mengerti akan sifat ini. Memainkannya dengan penuh kecerdasan. Saya yakin, tidak akan ada kekerasan rumah tangga, perselingkuhan atau keretakan dalam hubungan.

Lemahnya Hati Perempuan

Masih ingatkah kalian kisah Adam dan Hawa dengan Buah Keabadian? Diceritakan bahwa kedua manusia tersebut boleh memakan apa saja di Surga kecuali satu buah. Tunduk kepada perintah Tuhan, mereka berdua pun mencoba menjauhi buah tersebut. Namun Iblis tidak tinggal diam. Dia merayu keduanya tanpa henti, akhirnya Hawa tergoda dan juga meminta Adam untuk ikut mengambil buah tersebut.

Dari kisah tersebut terlihat bahwa yang pertama kali tergoda oleh bujukan Iblis adalah nenek moyangnya kaum perempuan, yaitu Hawa. Adam hanya mengikuti keinginan Hawa, barangkali agar Hawa merasa bahagia.

Perempuan memiliki hati yang lembut. Keputusannya didorong oleh emosi semata. Perempuan tidak tahan melihat orang lain menangis, mudah terayu dengan bait-bait kata indah dan seringnya mengambil suatu tindakan yang sangat impulsif, kadang juga tidak masuk akal.

Wajar saja, Dilan, dengan segala jurus permainan kata-katanya dapat dengan mudah meluluhkan hati Milea. Yang pada saat itu, seperti kita lihat dalam film, Milea masih memiliki kekasih di kota lain.

Jadi pelajaran yang dapat kita ambil. Jagalah hati perempuan dengan sebaik-baiknya. Jangan beri dia ruang untuk masuk ke perangkap buaian pria semacam Dilan. Agar hubungan yang harmonis selalu terjadi selama-lamanya.

Salam..

Penjualan Menurun, Lakukan Lima Strategi Ini!

Penjualan atau sales adalah hal terpenting untuk perusahaan. Bagaimana tidak, tujuan utama dari mendirikan perusahaan adalah untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Keuntungan diperoleh dari hasil penjualan produk atau jasa yang dijual kepada konsumen. Dengan adanya penjualan berarti perusahan mendapatkan pendapatan, lalu pendapatan tersebut digunakan untuk kegiatan operasional maupun strategis untuk mendukung aktivitas bisnis agar tetap berjalan.

Di dalam masyarakat terdapat kesalahan persepsi antara penjualan, pendapatan dan keuntungan. Ketiga hal tersebut secara definitif sangat berbeda. Penjualan adalah jumlah barang yang terjual. Pendapatan adalah uang yang didapatkan dari hasil transaksi penjualan. Sedangkan keuntungan adalah pendapatan dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk setiap produk atau jasa yang dijual. Jika penjualan turun, pasti pendapatan ikut menurun, namun belum tentu keuntungan ikut turun juga. Ini semua tergantung strategi harga yang ditetapkan oleh perusahaan.

Apapun hubungan dari semua itu, penjualan adalah akar dari setiap permasalahan keuangan di setiap bisnis yang ada. Saking pentingnya penjualan, hal ini selalu menjadi perhatian utama bagi pemegang saham dan manajemen perusahaan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan. Dalam artikel ini, saya akan memberikan pandangan dan saran bagaimana meningkatkan penjualan agar perusahaan tetap sehat dan terus hidup.

Kegiatan pemasaran adalah satu hal yang tidak bisa kita hindari jika ingin mendapatkan penjualan. Banyaknya penjualan belum tentu menghasilkan banyak keuntungan. Sebelum menjual satu produk atau jasa. Hendaknya perusahaan melakukan riset pemasaran untuk memetakan tiga hal yang sangat krusial seperti segmentasi, target pasar dan menentukan posisi merk di pasar.

Dengan mengetahui ketiga hal tersebut, perusahaan dapat mengetahui siapa kelompok yang disasar, target pasar mana yang memiliki potensi besar untuk membeli produk atau jasa serta menentukan bagaimana komunikasi pemasaran yang sesuai agar merk bisa diterima sesuai karakter produk atau jasa yang dijual.

Jika semua sudah dirasa cukup, perusahaan hendaknya memonitor kembali kualitas produk, pergerakan harga yang ditawarkan pesaing, kuantitas jaringan distribusi dan kualitas kegiatan promosi.

Iklan, iklan dan iklan!

Riset membuktikan bahwa periklanan adalah cara yang paling efektif untuk meningkatkan penjualan. Hanya saja di era yang saling terhubung seperti saat ini hendaknya beriklan tidak hanya pada media tradisional saja (iklan luar ruang, televesi, radio dan media cetak) namun juga perlu didukung dengan kegiatan periklanan di media digital (sosial media, website, Google ads, dan lain sebagainya). Dengan mengkombinasikan kedua media tersebut audiens yang disasar akan lebih luas. Khususnya generasi muda sekarang sudah sedikit aksesnya ke iklan tradisional. Sebelum mendesain konten iklan harus diperhatikan apa produk yang dijual, siapa segmen yang ingin dicapai serta persepsi apa yang ingin ditanamkan ke dalam benak konsumen. Semua itu harus betul-betul dipertimbangkan. Karena kegiatan periklanan berhubungan dengan anggaran yang dikeluarkan. Jika iklan tidak didesain dengan baik hanya akan membuang biaya percuma.

Evaluasi Harga

Jika anda menjual produk yang memiliki sensitifitas harga yang tinggi. Anda harus menaruh perhatian serius terhadap penentuan strategi harga. Lakukan riset dan analisis terhadap pesaing anda. Cari tahu kenapa mereka menurunkan dan menaikan harga. Perlu diingat, penurunan harga memang akan meningkatkan penjualan namun tidak meningkatkan loyalitas bahkan bisa juga menurunkan keuntungan. Sebalikanya, harga yang tinggi harus diikuti kualitas yang setara, jika kualitas yang diberikan sudah diatas ekspektasi konsumen, produk anda akan memiliki nilai yang tinggi. Menetapkan harga yang tinggi biasanya produk yang dijual sedikit namun keuntungan yang diraih akan besar.

Perluas Jaringan Distribusi

Kualitas produk sudah diatas rata-rata pasar. Hargapun dirasa sudah setara dengan kualitas. Hal tersebut tidak menjadi jaminan penjualan akan meningkat. Perlu dilakukan pemetaan kembali dimana produk anda dijual. Apakah konsumen mudah mendapatkannya? Apakah tempat dimana produk anda dijual mudah dijangkau? Jaringan distribusi sangatkan menentukan volume penjualan. Semakin banyak tempat anda menyediakan produk atau jasa anda. Semakin banyak potensi penjualan yang akan diraih. Selain jaringan distribusi fisik, anda perlu mempertimbangkan jaringan distribusi online. Sudah banyak sekarang ini pasar online yang memberikan akses yang mudah untuk menjual produk anda. Kelebihan jaringan distribusi online adalah market borderless atau tidak ada batasan bagi konsumen untuk membeli produk anda. Karena semuanya hanya dilakukan melalu gadget dan telunjuk mereka. Jika kali ini anda hanya menjual di satu atau dua tempat. Segera cari jaringan lainnya. Tambahkan tiga atau lebih tempat penjualan. Jangan lupa juga, buka toko online anda segera!

Lakukan Diversifikasi Produk

Penambahan jenis produk dan jasa dipercaya akan meningkatkan penjualan anda secara eksponensial. Jika sekarang anda hanya menjual satu jenis produk atau jasa saja. Segera tambah varian atau jenis baru dari produk anda. Maksimalkan daya kreatifitas anda untuk membuat produk atau jasa yang inovatif. Dengan begitu konsumen memiliki banyak pilihan sebelum mereka memutuskan untuk membeli. Bisa kita lihat banyak perusahaan besar menjual berbagai produk. Perusahaan komputer, selain membuat perangkat komputer ditambah pula dengan membuat produk handphone, pemutar musik, jam tangan dan juga televisi. Hal tersebut dilakukan agar terus selalu ada penjualan untuk menghidupi perusahaan yang mereka kelola.

Membangun Networking

Networking dalam hal ini dimaksudkan anda harus terus selalu meningkatkan jaringan hubungan anda. Bergabunglah ke perkumpulan yang sesuai dengan target pasar anda. Lakukan strategi communitization. Jika anda menjual produk perlengkapan sepeda motor. Segera bergabung dengan komunitas motor di kota anda. Berikan informasi produk anda disana. Dengan begitu, efek pemasaran word of mouth (WOM) akan terjadi. Produk anda akan cepat dikenal luas oleh masyarakat. Alhasil penjualan akan terus meningkat.

Demikian pandangan saya terkait upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Kegiatan seperti periklanan, penetapan harga, perluasan jaringan distribusi, diversifikasi produk, dan membangun jejaring harus selalu dievaluasi dalam kurun waktu tertentu. Sebagai pengingat, hendaknya perusahaan jangan terlalu reaktif ketika penjualan menurun karena bisa jadi masalah bukan dari dalam perusahaan. Namun masalah muncul dari lingkungan luar perusahaan yang tidak dapat dikendalikan seperti keadaan ekonomi domestik/internasional, kebijakan pemerintah, perubahan sosial budaya dan teknologi. Jika hal tersebut terjadi, perusahaan harus terus beradaptasi dan berinovasi.

Salam…

Gugatan Cerai Ahok dan Pelajaran Bagi Pasangan Muda

Baru-baru ini kita dikagetkan oleh berita gugatan cerai Basuki Tjahya Purnama alias Ahok atas istrinya Veronika Tan. Saya pribadi sangat terkejut hal ini bisa terjadi. Ingat betul dulu ketika pertama kali Ahok masuk penjara, saya dan rekan kerja sempat berdiskusi terkait hubungan Ahok dan keluarga. Saat itu kita hanya tidak sampai hati membayangkan jika satu kepala keluarga harus masuk penjara, lalu siapa yang akan menghidupi anak istri, baik lahir maupun batin.

Ahok dan istri sudah berumah tangga sekitar 20 tahun. Anak paling besar berumur dewasa dan sedang berkuliah di perguruan tinggi. 20 tahun masa pernikahan bukanlah waktu yang sebentar. Saya yakin banyak lika-liku yang dihadapi selama itu. Beredar berita bahwa Ahok menikah diumur 26 tahun, sedangkan istrinya baru berumur 19 tahun. Usia tersebut sudahlah umum untuk pasangan pria dan wanita menikah pada saat itu. Namun mungkin sangat muda sekali untuk ukuran perempuan masa kini menikah di umur 19 tahun, khususnya di perkotaan.

Menikah bukanlah keputusan yang mudah. Perlu banyak sekali pertimbangan yang perlu dipikirkan. Mulai dari kecocokan watak, kesiapan mental, kemapanan ekonomi sampai kedewasaan diri. Pernikahan yang sempurna adalah pernikahan yang dilakukan oleh dorongan hati karena cinta yang tulus dan keinginan hidup bersama yang kuat. Bukan karena tekanan sosial, orang tua atau pengakuan semata.

Pertemuan dua insan manusia memang sudah dicatat dalam kitab lauhul mahfudz, isinya sudah dibuat ribuan tahun sebelum manusia itu diciptakan. Begitupun perpisahan, saya yakin ada tangan tak terlihat yang mengatur semua itu. Akan tetapi apakah kita manusia hanya bisa pasrah menerima takdir? Tentu tidak, Tuhan memberikan kesempatan untuk berusaha dan berdoa untuk merubah semuanya agar menjadi lebih baik.

Dalam menjalani hubungan tidak ada ketentuan yang baku karena satu pasangan tentunya akan berbeda dengan pasangan lain. Saya sering bertanya kepada beberapa pasangan suami istri “senior” yang sudah berpuluh-puluh tahun menjalani mahligai rumah tangga. Saya tanya, apa rahasianya hubungan bisa awet sampai kakek nenek, jawabannya “kami tidak tahu”. Ada juga yang menjawab, “saling mengerti”, yang lain menjawab “harus terbuka”. Semua jawabannya terdengar normatif. Tidak ada aturan atau petunjuk baku yang mesti dilakukan sebuah pasangan agar hubungannya bisa berjalan dengan lancar.

Pertemuan dan perpisahan adalah rahasia yang maha kuasa. Di setiap kebahagiaan pasti akan muncul kesedihan. Dibalik kesedihan akan hinggap kesenangan. Yang mesti dipikirkan sebelum menikah adalah pastikan kita menikah karena memang saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain. Kemudian berdoa selalu kepada Yang Maha Kuasa, agar dihindari dari fitnah-fitnah yang bisa menghancurkan hubungan kita dengan keluarga.

Akhir kata, menikahlah, jangan tunggu lama, nanti keburu males.

ADA APA DENGAN BURUNG BIRU?

Biru adalah warna yang penuh kejujuran, ketenangan, kesetiaan, bisa diandalkan, dan keharmonisan.  Bahkan nenek moyang kita menganggap biru adalah warna darah dari para raja. Namun ada yang berbeda di kejadian minggu lalu, kericuhan terjadi di tengah-tengah demonstrasi yang dilakukan oleh sopir salah satu perusahaan taksi swasta nasional berlambangkan burung berwarna biru tersebut. Mobil taksi yang tetap narik ketika demo berlangsung dihancurkan dan diinjak-injak yang mengakibatkan jalanan macet dimana-mana. Demonstrasi dilakukan agar pemerintah terdorong untuk mengambil tindakan tegas terkait legalitas terhadap perusahaan jasa transportasi umum berbasis aplikasi online. Namun pertanyaannya adalah, apakah sudah tepat  yang mereka lakukan? Kepada siapa seharusnya mereka mengeluh?

Saat ini bisnis transportasi di Indonesia sedang dalam masa hypercompetitive market. Menurut Philip Kotler, In hypercompetitive market, there is hardly any sustainable competitive advantage. Rapid technological change and globalization can destroy competitive advantage overnight. Keamanan dan kenyamanan taksi burung biru yang selama ini melekat dibenak konsumen, kini tergantikan posisinya oleh penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi online. Nilai penjualan turun, supir sulit mendapatkan target.

Siapa sebenarnya biang keladi dari persaingan yang semakin ketat ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah teknologi. Hanya perusahaan-perusahaan yang cepat menanggapi perubahaan yang bisa bertahan melewati segala persaingan yang ada. Jack Welch, mantan CEO dari General Electric sering berkata kepada anak buahnya, Change or Die!. Ya, berubah atau mati, itulah pesan yang harus setiap perusahaan renungkan. Competitive advantage yang dibangun selama bertahun-tahun, bisa hancur karena perubahaan cepat yang timbul akibat teknologi. Pelanggan sekarang ingin serba instan, kalau ada yang lebih murah dan cepat, mengapa harus pakai cara lama.

Menanggapi hal ini, daripada meminta belas kasih pemerintah atau demonstrasi tak karuan dan pada akhirnya reputasi perusahaan yang tercoreng. Lebih baik perusahaan taksi konvensional melakukan benchmarking dengan perusahaan berbasis online tersebut. Menurut Philip Kotler dalam bukunya FAQS On Marketing, Answer and Advice by The Guru of Marketing, 2014, ada dua cara dalam melakukan benchmarking, yang pertama adalah passive benchmarking, kemudian yang kedua adalah creative benchmarking.

Dalam passive benchmarking, perusahaan melakukan peniruan secara penuh, baik itu meniru proses bisnisnya, cara pengembangan produknya ataupun bagaimana mereka berhubungan dengan pekerja atau pelanggan. Dalam dunia akademisi meniru secara penuh dianggap sebagai kejahatan, namun di dunia bisnis tidak demikian. Selama dapat membantu perusahaan meningkatkan profit dan pendapatan, meniru model bisnis tidak diharamkan.

Ada satu cara lagi yang lebih elegan dan orisinil, yaitu creative benchmarking. Dalam creative benchmarking, perusahaan tidak hanya meniru, tapi juga melakukan modifikasi atau improvisasi. Menurut Philip Kotler, Creative Benchmarking is about bettering the best, not just copying the best. Dengan cara ini, perusahaan dapat menemukan keunggulan bersaing baru dari perusahaan pesaing. Proses ini perlu ketekunan dan waktu yang panjang. Di dunia bisnis, jika hanya menjadi follower saja, perusahaan tidak akan bertahan lama. Menjadi kreatif adalah sebuah keharusan jika ingin menjadi sustainable company.

Kesimpulannya, pemerintah tidak dapat membantu banyak dalam proses persaingan ini. Regulasi terkait hal itu cepat atau lambat akan terpenuhi oleh perusahaan transportasi berbasis online tersebut. Nah, jadi sebelum izin legalitas sudah sepenuhnya keluar. Sebaiknya perusahaan taksi konvensional segera melakukan benchmarking dengan perusahaan tersebut. Agar bisa bersaing secara sehat. Yang perlu diingat adalah kecepatan, keamanan dan kenyamanan. Perusahaan harus memenuhi ketiga hal itu, tentunya harus berbasiskan teknologi. Jika semua sudah dipenuhi, niscaya kehadiran perusahaan transportasi berbasis online bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Powered by WordPress.com.

Up ↑